aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

View : 4313 kali


Catatan Refleksi
Rabu, 20 Maret 2013
Hakim-hakim 20 : 17 - 35.
MELANGKAH DALAM KEBENARAN VS BERTAHAN DALAM KEJAHATAN.
Pdt. Alex Letlora



PENDAHULUAN.

Hidup yang dijalani memang harus memilih anatara yang baik dan jahat. Memilih yang baik belum tentu menghasilkan yang baik pula. Seringkali pilihan untuk menyatakan kebenaran justru mengalami tantangan dan kebencian. Tidak sedikit yang ketika bertemu situasi demikian menjadi berbalik arah sebab tidak cukup kuat menanggung penolakan.
Melangkah dalam kebenaran memang penuh dengan risiko seperti yang dikemukakan sendiri oleh Yesus bahwa seorang murid akan mengalami penolakan ( Lukas 9 : 5 ). Maka hidup dalam kebenaran bukanlah hal yang mudah tetapi tidak berarti mustahil. Menyembah Allah adalah menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran ( Yoh. 4 : 24 ).
Dalam konteks inilah perikop yang menyatakan peperangan dengan suku Benyamin merupakan sebuah kisah tentang kemauan untuk melangkah dalam kbenaran atau melangkah dalam kejahatan. Peristiwa di Gibea, menunjukka kejahatan yang luar biasa yang kemudian ditanggapi oleh Isral dengan sikap yang jelas yakni menumpas kejahatan. Sikap keras terhadap kejahatan merupakan gagasan yang kuat dari Firman Tuhan yang memeprlihatkan sikap Allah yang menentang kejahatan. Dalam konteks ini adalah kejahatan seksual dan pembunuhan. Peristiwa Gibea lalu dengan lantang menunjukkan bahwa penolakan terhadap kebenaran berawal dari arogansi, gengsi dan setia kawan dalam kejahatan. Allah menentang sikap demikian dengan berpihak kepada Israel ( ayat 28 ).

TELAAH PERIKOP.
Ayat 18 - 21 : pada bagian ini dikemukakan bahwa meminta petunjuk kepada Allah adalah langkah awal yang tepat. Meminta petunjuk kepada Allah sekaligus memperlihatkan sikap yang hati-hati. Ada hal-hal yang sudah ada dalam Kitab Suci sehingga tak perlu lagi ditanyakan kepada Tuhan. Misalnya: bekerja pada hari Sabat, mau punya istri kedua, mau pacaran / menikah dengan orang non kristen, dan sebagainya.

Tetapi ada banyak hal-hal yang tak dinyatakan dalam Kitab Suci, seperti harus melayani dalam pelayanan apa, di gereja mana? Harus kerja dimana? Harus menikah dengan orang Kristen yang mana? Untuk hal-hal ini harus minta petunjuk khusus dari Tuhan! Jadi, jangan mengabaikan petunjuk khusus dari Tuhan, itu sama dengan mengabaikan Tuhannya sendiri!
Sesuatu yang ironis bahwa sekalipun mereka ada di pihak yang benar, dan mereka berperang dengan petunjuk Tuhan, tetapi dalam pertempuran ini mereka dikalahkan. Ini menunjukkan bahwa 'kalah tak harus berarti salah`.
Tindakan Tuhan memang aneh dan rasanya tak masuk akal. Dengan mengijinkan Benyamin menang, bukankah mereka menjadi lebih sombong, dan bahkan mengira bahwa mereka yang benar dan karena itu diberkati oleh Tuhan? Tetapi kita tidak bisa menilai tindakan Tuhan dengan logika kita. Mirip dengan itu, jaman sekarang juga banyak gereja yang merasa 'menang` dalam jumlah, dalam banyaknya aset, sehingga mereka merasa benar / diberkati oleh Tuhan. Ini memang benar, karena kalau kita melihat pada ay 18 tadi, maka mereka hanya bertanya siapa yang harus maju dulu. Mereka bahkan tidak meminta berkat Tuhan, kekuatan dari Tuhan, supaya bisa menang dalam perang melawan Benyamin.

Ayat 22 - 25 : bertempur dan kalah setelah meminta petunjuk Tuhan merupakan kenyataan yang sulit diterima. Meminta petunjuk Allah memang memperlihatkan sikap bergantung kepada Allah tetapi Ia bertindak dalam kebebasan-Nya menentukan tindakan setiap manusia. Berharap pada kehendak Tuhan memang baik tetapi bergantung pada setiap keputusan Tuhan adalah yang terbaik.
Dalam bagian ini kita dapat belajar bahwa pengharapan kita kepada Allah bukanlah sebuah upeti yang diterima Allah sehingga semua kehendak kita terpenuhi. Setiap orang dapat belajar untuk berharap kepada Allah tetapi yang lebih utama adalah menerima keputusan Allah.
Yes 55:8-9 - "(8) Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman TUHAN. (9) Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu".

Ro 11:33 - "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!".
Rancangandan pengetahuan Allah memang tidak terselami sehingga dalam bagian ini dikemukakan adanya sikap untuk tidak putus asa dalam berharap kepada Tuhan. Tuhan membiarkan Israel kalah lagi, supaya mereka makin menyadari bahwa kemenangan tak tergantung kekuatan mereka, tetapi tergantung Tuhan.

Ayat 26 - 28 : Penyebutan Pinehas sebagai imam Allah menunjukkan kira-kira saat terjadinya peristiwa ini. Bahwa ini merupakan suatu petunjuk yang penting, yang menunjukkan peristiwa ini terjadi kira-kira 20 tahun setelah kematian Yosua. Baru ditinggal mati Yosua sekitar 20 tahun, Israel sudah begitu kacau. Dua kali kalah menyebabkan mereka menjadi lebih rendah hati dan berdoa dengan lebih sungguh-sungguh, dan kali ini Tuhan bukan hanya memberi petunjuk, tetapi juga memberikan jaminan kemenangan kepada mereka (ay 28).
Kerendahan hati merupakan kunci penting untuk mencapai kemenangan sehingga dalam kerendahan hati akibat kekalahan yang dialami ( sampai 2 kali kekalahan ) menunjukkan bahwa keberadaan mereka sendiri tidak akan mengalami kemajuan. Hanya dalam sikap yang rendah hatilah maka Israel dimungkinkan untuk menang.
Dari sini dapat dipelajari bahwa kekacauan yang timbul dalam kehidupan umat Tuhan dapat terjadi ketika umat tidak peka terhadap dosa mereka. Gerejapun akan mengalami kekacauan dalam pelayanan ketika umat Tuhan tidak peka terhadap dosa, termasuk dosa perzinahan dan pembunuhan.

Ayat 29 - 35: kemenangan suku Benyamin sampai 2 kali mengakibatkan mereka mengalami tinggi hati dan merasa sebagai pemenang. Padahal hari kejatuhan mereka sudah dekat. Kekalahan Benyamin lalu menjadi pelajaran bagi umat Tuhan bahwa ada waktunya Tuhan akan bertindak. Jika mereka tidak bertobat maka waktu tindakan Tuhan akan menghukum mereka dengan segala dosa mereka.
Dalam konteks ini kita dapat belajar bahwa dosa bisa saja dilakukan tanpa takut akan Tuhan tetapi waspadalah pada hari Tuhan menghukum. Ia tidak pernah kompromi dengan dosa termasuk dosa perzinahan dan pembunuhan.


RELEVANSI MASA KINI.
Jaman yang kita sedang jalani sekarang adalah jaman yang 'aneh`. Kenapa ? sebab pada jaman ini pelaku kejahatan semakin sombong dan angkuh dengan kejahatan mereka. Nurani mereka tumpul dan hati mereka beku terhadap kebenaran. Mereka bisa saja aktif di gereja tetapi sesungguhnya mereka adalah orang yang mati rohaninya. Akibatnya selalu timbul kekacauan dari perlaku yang demikian. Orang berzinah dianggap biasa dan membunuh dianggap ringan sehingga kejahatan terus berlangsung tanpa batasan.
Lebih aneh aneh lagi jaman ini adalah jaman dimana yang jahat semakin banyak sahabat, sebab melakukan kejahatan dalam sikap yang manis dan tampak indah sehingga yang muncul adalah persengkongkolan jahat. Bersahabat dengan penjahat lalu didasari dengan kata ' setia kawan '. Seorang sahabat yang baik akan mengur sahabatnya untuk bertobat bukan membangun aliansi kejahatan.
Tetapi yang sangat aneh adalah kebenaran selalu berada dipihak yang kalah dan terpojok dalam tekanan kejahatan. Kebenaran menjadi barang langka sebab orang tidak tahan dalam penindasan yang jahat. Dalam kondisi ini firman Tuhan berpesan agar jangan sekali-kali tinggalkan kebenaran sekalipun kenyataan yang dihadapi tidak sesuai dengan kehendak hati.
Bagi anggota PKB yang akan memasuki pelayanan baru sebagai presbiter agar memelihara terus kebenaran dalam Tuhan. Carilah Tuhan senantiasa agar kehidupan yang dijalani dapat menjadi berarti dan bermakna bukan karena memiliki segala sesuatu tetapi karena memiliki KEBENARAN.
Jangan patah hati dalam kebenaran, jauhilah yang jahat dan hidup dalam terang-Nya, maka pada waktu yang Tuhan sendiri tentukan, KITA JADI UMAT PEMENANG. Amin.









Pdt. Alexius Letlora D.Th





Arsip Catatan Refleksi:

Rabu, 22 April 2020
NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPAN

Rabu, 13 Nopember 2019
HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIAN

Selasa, 29 Oktober 2019
TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)

Jumat, 06 September 2019
WARISAN UNTUK ANAK-ANAK KITA

Minggu, 23 Juni 2019
KELUARGA YANG BIJAKSANA

Sabtu, 05 Januari 2019
WAKTUNYA TAMPIL DI MUKA UMUM

Minggu, 06 Januari 2019
MILIKILAH IMAN SEKALIPUN TIDAK MELIHAT

Senin, 24 Desember 2018
NATAL MEMANG MAHAL

Rabu, 12 Desember 2018
TINDAKAN NYATA DAN BENAR

Rabu, 12 Desember 2018
HATI-KU AKAN BAIK KEMBALI

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th
Saya adalah Pendeta di Jemaat FILADELFIA, Bintaro. Melayani selama 30 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 26 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.
MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
SEPATU YANG BERLUBANG
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN
TUJUAN KETERPILIHAN MANUSIA
`SUAMI-ISTRI YANG DIKAGUMI DAN DICINTAI`


Sub Kategori Catatan Refleksi:
Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (45), Catatan Refleksi (78), Download Materi (2), Khotbah (184), Photo Keluarga (34)