aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

View : 3847 kali


Catatan Refleksi
Jumat, 19 April 2013
Matius 27:45-46
PERKATAAN YESUS DI SALIB KE-4
Pdt. Alex Letlora



Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Ucapan Yesus di salib adalah bagian awal dari Mamur 22 dan Yesus tidak mengucapkan seluruh Mazmur 22 tetapi hanya pada bagian awal. Mazmur 22 merupakan mazmur ratapan pribadi yang sedang mengalami kesesakan. Raja Daud percaya bahwa Tuhan (YHWH) sebagai Allah pengasih, Allah yang mendengar dan memperhatikan serta terlibat dalam kehidupan umat-Nya. Bernhard Anderson dan Steven Bishop mengatakan:
"Pergerakan ratapan ini dari duka ke suka, dari penghinaan ke pengangkatan, dan terus maju kepada nyanyian ucapan syukur di pasal berikutnya ". Hal ini memperlihatkan adanya sebuah ketergantungan yang kuat kepada Allah sekalipun dalam keadaan menderita yang luar biasa. Melalui seruan penderitaan Yesus hendak diperlihatkan betapa luar biasa akibat dosa. Dosa adalah sikap menentang Allah dengan menganggap dosa sebagai hal biasa. Inilah sikap kebanyakan manusia yang merasa tidak bermasalah dengan dosa padahal Allah adalah Allah yang suci yang tidak dapat kompromi dengan dosa. Seruan Yesus sekaligus menunjukkan bahwa dalam kesadaran mengakui dosa seseorang akan mengalami kekuatan pertolongan dari Tuhan. Maka diperlukan kerendahan hati untuk menyatakan pengakuan sebagai manusia yang perlu mengalami pembaruan Allah, yang dalam bahasa Yesus disebut sebagai 'lahir baru` (ingat percakapan dengan Nikodemus). Mazmur 22 mencerminkan refleksi umat atas penyataan Allah di tengah-tengah kehidupan secara pribadi. Mazmur ratapan berfungsi mengatasi konflik iman secara terkontrol agar tidak terjadi penyimpangan. Iamn yang seperti inilah menjadi dasar yang kuat bagi seseorang mengalami pertumbuhan.
John Davies (2010: 47), seorang teolog Inggris menyatakan bahwa 'musuh iman bukanlah keraguan tetapi pemberangusan keraguan`. Alat untuk memberangus keraguan adalah kalkulasi rasional yang dilihat sebagai satu-satunya jalan mengatasi masalah. Disnilah persoalan mendasar dihadapi oleh manusia yang berdosa karena memberangus keraguan dan menganggap pendekatan rasional sebagai satu-satunya jalan keluar. Persitiwa salib memberi contoh yang paling kuat tentang sikap terhadap penderitaan dan jawaban atas penderitaan. Dalam konteks Mazmur 22 maka penderitaan itu berujung kepada sorak-sorai mempermuliakan Tuhan yang berkenan menyertai dan mendampingi setiap manusia yang berani mengakui dosa dan kelemahannya dihadapan Allah. Eli, eli lama sabakhtani adalah bentuk pengakuan dan bukan suara putus asa.
Suami-istri dalam perjalan hidup bersma juga diwarnai dengan tarikan pengaruh dosa yang memerlukan kekuatan iman untuk mengatasinya. Ketika dosa merasuk dengan kuasanya yang merusak dan membinasakan maka suami-istri perlu memiliki keyakinan bahwa diperlukan pengakuan diantara mereka tentang betapa lemahnya mereka. Janji perkawinan adalah janji untuk terus mempertahankan iman kepada Allah yang berdaulat dan berkarya dalam hidup suami-istri. Bertolak dari sanalah maka Paulus menyatakan dengan lugas bahwa :

"3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. 5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Rom 5:3-5)

Maka setiap suami-istri di tengah pergumulan yang paling pahit sekalipun perlu setia pada pengharapan didalam Yesus, sehingga iman yang berkelas adalah iman yang terbentuk dari berbagai peristiwa. Juan Alfaro teolog spanyol dengan indah mengemukakan bahwa iman dalam pikiran dan pikiran dalam iman merupakan gagasan penting bagi setiap orang percaya. Hal itu berarti suami-istri yang beriman adalah suami-istri yang berharap dan tetap hadir dengan pengakuan bahwa iman mereka tidak dapat diberangus oleh apapun juga bahkan oleh penderitaan.




Pdt. Alexius Letlora D.Th





Arsip Catatan Refleksi:

Rabu, 22 April 2020
NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPAN

Rabu, 13 Nopember 2019
HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIAN

Selasa, 29 Oktober 2019
TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)

Jumat, 06 September 2019
WARISAN UNTUK ANAK-ANAK KITA

Minggu, 23 Juni 2019
KELUARGA YANG BIJAKSANA

Sabtu, 05 Januari 2019
WAKTUNYA TAMPIL DI MUKA UMUM

Minggu, 06 Januari 2019
MILIKILAH IMAN SEKALIPUN TIDAK MELIHAT

Senin, 24 Desember 2018
NATAL MEMANG MAHAL

Rabu, 12 Desember 2018
TINDAKAN NYATA DAN BENAR

Rabu, 12 Desember 2018
HATI-KU AKAN BAIK KEMBALI

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th
Saya adalah Pendeta di Jemaat FILADELFIA, Bintaro. Melayani selama 30 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 26 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.
MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
SEPATU YANG BERLUBANG
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN
TUJUAN KETERPILIHAN MANUSIA
`SUAMI-ISTRI YANG DIKAGUMI DAN DICINTAI`


Sub Kategori Catatan Refleksi:
Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (45), Catatan Refleksi (78), Download Materi (2), Khotbah (184), Photo Keluarga (34)