aletlora.com
Doa adalah percakapan dengan Tuhan dan kesediaan untuk meng'amini' kehendak-Nya. Tetaplah 'bicara' dan setialah 'mendengar'. Itulah DOA.

View : 247 kali


Catatan Refleksi
Jumat, 06 September 2019
Amsal 4: 1- 5
WARISAN UNTUK ANAK-ANAK KITA
Pdt. Alex Letlora D.Th

WARISAN UNTUK ANAK-ANAK KITA
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,

Memiliki hikmat memang menguntungkan sebab hikmat pada dasarnya adalah kemampuan untuk menelaah sebuah peristiwa. Irisan-irisan setiap peristiwa lalu memberi gambaran dibalik permukaan tentang alasan sebuah peristiwa terjadi. Memiliki hikmat memang penting dan karena itu merupakan warisan yang sangat mendasar. Artinya sebuah hikmat bukan sekedar kado yang bersifat temporer, tetapi adalah warisan yang permanen. Dalam pemahaman yang demikian maka nasihat hikmat yang disampaikan merupakan pengajaran yang bertolak dari pengalaman empiris. Hikmat bukan sekedar arif tetapi lebih dalam lagi adalah soal integritas karena pada dasarnya hikmat bukan soal sederhana. Manusia yang berhikmat adalah manusia yang tidak saja tampil di ruang publik secara elegan tetapi sekaligus adalah manusia yang menyadari kemanusiaannya yang ringkih dan rapuh. Manusia berhikmat adalah manusia yang terus bergerak diantara dua kekuatan yang tarik menarik namun terkendali sehingga ketika manusia berhikmat berjumpa dengan sukacita ia tidak lupa bersyukur dalam kerendahan hati dan ketika berjumpa dengan dukacita ia tetap berpengharapan.

Memiliki hikmat memberi peluang kepada manusia berhikmat agar mampu menjaga ideliasme sebagai ciptaan Allah. Memiliki hikmat sekaligus juga adalah manusia hikmat yang menjaga antara kata dan perbuatan tetap padu-padan dan serasi. Maka manusia berhikmat tidak pernah memberi kado yang sifatnya hanya 'to entertain` tetapi memberi warisan yang sifatnya 'well trained`- tangkas dan terlatih. Kapasitas manusia berhikmat selalu besar untuk menampung gagasan dan ide besar sehingga manusia berhikmat dalam tindakan yang sekalipun kecil dapat berakibat besar.

Sahabat-sahabat yang terkasih dalam Tuhan Yesus,

Pada bacaan ini kepada kita diperhadapkan ajaran tentang hikmat yang berdiam dalam kecerdasan, pengetahuan dan kebijaksanaan sehingga orang bebal dan bodoh akan sulit meraih hikmat (Amsal 24:7, 14:33, 11:2, 14:6). Maka hikmat yang diwariskan kepada anak-anak adalah sebuah kecerdasan untuk terampil mengasah setiap peristiwa dan menjadikannya titik tolak untuk semakin maju. Anak-anak yang mendapat warisan hikmat adalah anak-anak yang tidak hanya cerdas secara pengetahuan tetapi juga cerdas mengolah hati. Hati yang tajam dan kecerdasan bagai pasangan yang saling melengkapi dan membutuhkan, supaya muara dari pasangan hati yang tajam dan kecerdasan adalah hidup dalam takut akan Tuhan.

Maka kepada kita disampaikan dua hal utama yakni:

1. Didikan ayah ibu adalah didikan yang hidup (ayat 1- 4)
Rumah adalah ruang pendidikan yang memiliki pengaruh besar kepada setiap anak. Di rumah terjadi proses pendidikan tentang hidup dengan pengajar adalah ayah-ibu (orangtua). Ruang pendidikan yang luas untuk tampil menjadi pribadi berhikmat yakni hati yang tajam dan kecerdasan. Maka pendidikan di rumah menjadi tantangan yang luarbiasa ketika tarikan untuk keluar dari rumah juga kuat. Maksudnya ialah didikan ayah-ibu hanya efektif ketika ruang di rumah adalah ruang pendidikan yang berkualitas. Didikan itu adalah didikan pola hidup ayah-ibu.
Para orangtua perlu menghayati hal ini ketika rumah tidak lagi menjadi tempat yang sejahtera dengan berbagai aroma kehidupan, maka anak-anak mendapat warisan yang merusak dan menghancurkan masa depan. Warisan hikmat yang diberikan orangtua adalah relasi yang terus terjaga dan terbina sebagai suami-istri. Relasi suami-istri yang hidup dan selalu memberi teladan melalui kata dan tindakan yang padu adalah warisan yang mensejahterakan.
Di rumah terjadi proses pendidikan yang tidak hanya mematangkan seorang anak tetapi sekaligus medorong anak mencapai cita-citanya sendiri.

2. Didikan ayah ibu adalah didikan jalan lurus ( ayat 5 )
Warisan ayah ibu bagi anak adalah warisan untuk hidup di jalan yang lurus sehingga tercapai sebagai manusia yang 'tinggi` dan terhormat (ayat 😎. Ayah ibu adalah penasihat yang dipercaya Allah untk mendidik dan membesarkan anak mereka (ingat janji baptisan). Maka didikan di jalan lurus juga disertai tantangan jalan bengkok. Inilah kekuatan sebuah pendidikan yang terjadi di rumah sehingga jalan lurus itu tampil lebih dahulu di rumah. Sebuah jalan lurus yang dijalani oleh setiap orangtua sebagai pembukan jalan bagi anak mengikutinya. Inilah jalan lurus yang dirangkum dalam kearifan istilah 'ing ngarso sung tulodo, ing madya mbangun karso, tut wuri handayani`.
Kehadiran setiap anak dalam kerangka inilah yang akan menerima warisan dan bukan kado. Warisan yang tidak selalu diumbar dalam kata tetapi warisan yang kaya dalam tingkah laku.

Hadir dengan warisan seperti inilah yang akan membuat setiap ayah ibu dapat berkata di hadapan Allah kelak, 'mission accomplish`, tugas sudah terpenuhi dan tugas sudah dilaksanakan. Jadilah ayah ibu yang berhikmat maka anakpun akan hidup di dalamnya. Selamat HUT pekat PA GPIB Ke-60. Tuhan Yesus memberkati.


Pdt. Alexius Letlora D.Th





Arsip Catatan Refleksi:

Rabu, 22 April 2020
NYANYIAN MUSA NYANYIAN KEHIDUPAN

Rabu, 13 Nopember 2019
HIDUP SEBAGAI TANDA KESAKSIAN

Selasa, 29 Oktober 2019
TOLSTOY DAN GPIB TENTANG CINTA (Renungan HUT GPIB Ke-71 31Okt 1948 - 31 Okt 2019)

Minggu, 23 Juni 2019
KELUARGA YANG BIJAKSANA

Sabtu, 05 Januari 2019
WAKTUNYA TAMPIL DI MUKA UMUM

Minggu, 06 Januari 2019
MILIKILAH IMAN SEKALIPUN TIDAK MELIHAT

Senin, 24 Desember 2018
NATAL MEMANG MAHAL

Rabu, 12 Desember 2018
TINDAKAN NYATA DAN BENAR

Rabu, 12 Desember 2018
HATI-KU AKAN BAIK KEMBALI

Jumat, 10 Nopember 2017
DUNIA PASCA FAKTA DAN DELUSI MASA KINI (Refleksi Hari Pahlawan Nasional)

Arsip Catatan Refleksi..

Mengenai Saya:

Pdt. Alexius Letlora D.Th
Saya adalah Pendeta di Jemaat FILADELFIA, Bintaro. Melayani selama 30 tahun sejak desa Baras (Sulawesi Barat). Istri Conny Alma Letlora - Sumual, menjadi pendamping yang turut terlibat mendorong saya untuk semakin bertumbuh dalam pelayanan.
Kami diberkati 26 tahun yang lalu dan dikaruniakan anak-anak,  Linkan, Kezia dan Andrew sebagai anugerah Tuhan kepada kami. Kami sekeluarga bersyukur untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami.
MAJU TERUS BERSAMA YESUS SEBAB DALAM PERSEKUTUAN DENGAN-NYA JERI LELAH KITA TIDAK PERNAH SIA-SIA.
Popular:


HIDUP BERPENGHARAPAN DI TENGAH MASA SULIT
GEREJA YANG MELAYANI DAN BERSAKSI - DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN JEMAAT
MAKNA KEMATIAN YESUS (Jumat Agung)
KONFLIK DALAM KELUARGA KRISTEN
SEPATU YANG BERLUBANG
TUJUAN KETERPILIHAN MANUSIA
`SUAMI-ISTRI YANG DIKAGUMI DAN DICINTAI`


Sub Kategori Catatan Refleksi:
Last Searches:

Kategori Utama: Artikel (45), Catatan Refleksi (78), Download Materi (2), Khotbah (181), Photo Keluarga (34)