Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Peristiwa Natal dapat menjadi sebuah masalah ketika Natal ditinjau dari sudut pandang yang berlaku umum sehingga dapat menisbikan makna. Natal lalu dimaknai terbatas pada ucapan tanpa makna dan hanya terbatas pernyataan yang tidak menukik pada inti dari natal itu sendiri. Natal dapat menjadi masalah ketika cara pandang terhadapnya hanya sebatas selebrasi yang kering makna.
Maka Natal mendapat perspektif yang otentik yakni bagaimana peristiwa dulu menjadi actual pada masa kini. Jika Natal dapat menjadi masalah maka seharusnya Natal dihayati sebagai masa Allah, masa dimana Allah bertindak dalam sejarah manusia dan terus demikian. Natal dapat menjadi pemicu masalah ketika pijakannya hanya bersifat temporer tetapi dapat menjadi masa Allah ketika didasarkan pada iman yang actual.
Narasi yang dikemukakan dalam bacaan kita menunjukkan bahwa kehadiran seorang Raja Mesias bisa menjadi masalah ketika dipahami dengan dangkal. Raja yang hadir dengan seekor keledai adalah raja yang tidak popular dan hanya menjadi batu sandungan. Kehadiran seorang Raja dengan mengendarai keledai beban yang muda adalah sebuah pernyataan yang menjungkirbalikan nalar. Raja seperti ini tentu gambaran Raja yang lemah yang tidak paham realitas hidup yang keras dan menantang. Raja seperti ini hanya menimbulkan frustrasi bagi umat dan dianggap lemah terhadap keadaan yang menyesakkan. Benarkah demikian?
Nabi Zakharia justru mengemukakan gagasan orisinil tentang bagaimana Allah bertindak. Natal bukalah masalah sebaliknya adalah masa Allah menyatakan tindakan-Nya. Allah tidak hadir selaras dengan cara pandang manusia sebagai raja sebaliknya Ia menunjukkan karya yang berseberangan dengan gaya manusia. Allah menunjukkan bahwa Raja Mesias adalah Mediator Agung yang justru meneruskan karya damai sejahtera-Nya kepada rakyat.
Raja itu mengambil segala tanggungjawab atas kehidupan umat yang tersandera oleh ketidakberdayaan. Di ayat 9 sang Raja mendemontrasikan gagasan pengharapan yang seolah mustahil tapi dapat dipastikan kualitas tindakan-Nya. Kontras yang ditampilkan pada ayat 10 menunjukkan bahwa sekalipun terlihat lemah tetapi justru kuasa-Nya yang besar mampu melenyapkan kuasa-kuasa yang diyakini memberi jaminan. Damai yang dinyatakan-Nya bukanlah damai yang tak memiliki kuasa sebaliknya dibalik damai ada kuasa yang mampu melenyapkan segala unsur-unsur kejahatan.
Sahabat-sahabat yang Tuhan Yesus kasihi,
Melalui pemahaman yang demikian maka kehadiran kita dengan luka-luka selama tahun 2022 mengalami pemulihan. Natal adalah kisah yang kuat tentang berkuasa-Nya Allah mengangkat setiap masalah manusia menjadi masa Allah. Natal tidak lagi hadir dengan berita yang menimbulkan rasa frustrasi sebaliknya Natal hadir sebagai masa Allah menyatakan kuasa-Nya yang tidak terbatas. Kuasa-Nya yang menyentak setiap orang percaya untuk turut berada dalam barisan umat keselamatan. Janji-Nya tidak pernah kadaluwarsa tetapi selalu menghadirkan damai sejahtera yang tidak dapat diberikan oleh dunia (Yoh.14:27).
Kita tidak menyambut Natal hanya dengan tenggelam dalam deretan angka bermasalah tetapi memahami Natal sebagai masa Allah. Kita bersukacita bukan atas peristiwa Natal tetapi memahaminya sebagai tindakan Allah yang menyatakan damai sejahtera-Nya di panggung kehidupan kita semua.
Selamat menyongsong Natal selamat mengalami damai sejahtera di masa Allah yang berlangsung di panggung kehidupan kita.
Maju terus bersama Tuhan Yesus sebab dalam persekutuan dengan-Nya jerih Lelah kita tidak sia-sia. Amin.